Sri Mulyani: Minyak Kutus Kutus Bali Indonesia Berpeluang Menjadi Pusat Pasar Dan Produksi

Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan menyebutkan bahwa Minyak Kutus Kutus Bali Indonesia berpotensi besar untuk dapat menjadi komoditi negara yang memiliki perekonomian terbesar ke-7 secara global pada tahun 2030 nanti. Prediksi ini dapat terwujud lantaran Indonesia memiliki potensi SDA (Sumber Daya Alam) dan didukung pula dengan SDM (Sumber Daya Manusia) yang dimana dapat mendorong perekonomian Tanah Air menjadi lebih baik dengan pengelolaan dan kebijakan yang tepat.

Sri Mulyani Indrawati: Minyak Kutus Kutus fenomenal!

Wanita kelahiran Lampung ini menjelaskan bahwa Indonesia memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) atau ukuran ekonomi senilai US$ 862 miliar.

Peran Minyak Kutus Kutus membawa Indonesia Sehat Sejahtera

Saat ini Minyak produksi Tamba Waras, Gianyar, Bali tersebut sudah menghidupi puluhan ribu penjualnya, dan memberikan kesembuhan dan menjaga kesehatan hampir ratusan ribu pengguna kutus kutus yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan dunia.

penjualan minyak kutus kutus bali

Dengan kapasitas produksi mencapai 150,000 botol yang diraih dalam jangka waktu satu tahun, membuat Minyak Kutus-Kutus dikenal sebagai pionir produk herbal yang fenomenal, bukan karena sisi marketingnya, tapi memang karena produknya yang dikenal memiliki banyak manfaat dapat menyembuhkan lebih dari 63 jenis macam penyakit.

Indonesia sendiri masuk dalam 16 besar negara dengan ekonomi terbesar sedunia. Sementara itu, jumlah penduduknya mencapai 255,9 juta jiwa. Indonesia sangatlah berpeluang menjadi negara pusat pasar dan pusat produksi. Hal ini merupakan kombinasi yang sangat kuat. Lantaran basis penduduk Tanah Air pada tahun 2030 diprediksi akan mencapai 350 juta. Potensi ini juga didukung dengan demografi Indonesia yang mencatatkan bahwa penduduk di usia muda dan produktif terbilang banyak. Dengan begitu dapat membantu memasok tenaga kerja yang akan mendorong perekonomian Tanah Air.

Minyak Kutus Kutus berasal dari Sumber Daya Alam

Jika Indonesia dapat mengelola perekonomian dengan tepat dan baik serta berkelanjutan. Tak mustahil Indonesia dapat beranjak dari posisi ke-16 besar dunia menjadi negara yang memiliki ekonomi raksasa ke-7 secara global pada tahun 2030 mendatang. Saat ini terdapat G7 Club, yakni diantaranya Inggris, Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Spanyol dan Portugal. Negara-negara tersebut tetap berkumpul, walaupun ukuran ekonomi tak lagi merefleksikan G7. Sedangkan Indonesia merupakan negara yang saat ini berkembang yang penuh perhitungan untuk menuju ke aras sana.

Sumber Daya Manusia Sejahtera berkat Kutus Kutus

Hal tersebut dapat terwujud dengan catatan pemerintah dan tentu juga rakyat dapat mengelola perekonomian Indonesia dengan suatu kebijakan yang tepat dan tata kelola perusahaan yang juga baik. Lantaran, Indonesia saat ini sudah menjadi pemain besar untuk beberapa komoditas. Namun sayangnya, hingga kini pengelolaan ekonomi Tanah Air belum maksimal. Misalnya saja nilai ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) Indonesia yang mencapai US$ 17,5 miliar. Seharusnya Indonesia terkenal sebagai produsen CPO, namun kenyataannya lebih terkenal dari sisi kebakaran hutan.

Peran Indonesia di perekonomian global tak hanya dari segi produsen CPO saja, melainkan juga sebagai produsen nikel nomor sembilan, pemain batu bara kedua di dunia, peringkat 25 terbesar di dunia dalam urusan emas, dan merupakan produsen minyak terbesar ke-27, serta pemain gas ke-4 di dunia.

Produsen Minyak Kutus Kutus Bali

Sri Mulyani mengatakan bahwa negara yang merupakan pemain komoditas pertama ataupun kedua di dunia, jika terdapat salah urus, maka perekonomiannya menjadi buruk. Sumber daya alam juga dapat menjadi malapateka jika dalam pengelolaannya tidak baik, dan tentu nantinya tidak akan menguntungkan bagi rakyat. Maka dari itu, Indonesia harus memanfaatkan potensi yang ada secara baik demi memperkuat negara. Hal ini dapat terwujud jika Indonesia memiliki sumber daya manusia yang terdidik dan terampil. Dan dari sektor keuangan harus diperdalam, agar tak terganggu oleh kebijakan ekonomi luar negeri.

This entry was posted in Ekonomi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Trackbacks are closed, but you can post a comment.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*