Utang Pemerintah Republik Indonesia Tembus Di Angka Rp 3.359 Triliun

Pemerintah Pusat Republik Indonesia hingga akhir Juli 2016, tercatat memiliki total utang sebesar Rp 3.359,82 triliun. Angka tersebut turun tipis yakni Rp 2,92 triliun, jika dibandingkan akhir Juni 2016, yaitu di angka Rp 3.362,74 triliun. Realisasi tersebut masih dikatakan aman oleh pemerintah, lantara rasio utangnya masih rendah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Utang

Menurut Robert Pakpahan selaku Direktur Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) mengatakan bahwa utang Indonesia masih aman. Menurutnya, utang dapat diukur dari besar nominalnya, melainkan dari sisi relativitasnya terhadap PDB. Untuk saat ini utang tersebut masih di mencapai 26,7% terhadap PDB. Persentase tersebut tentunya masih terbilang rendah, dibandingkan dengan kebanyakan negara lainnya. Bahkan jika dibandingkan dengan Jepang yang persentasenya sudah mencapai 200% terhadap PDB negara tersebut.

Robert Pakpahan

Robert menambahkan walaupun kepemilikan asing dalam surat utang pemerintah yang sudah mencapai 39%, angka persentase tersebut tidak masalah. Ini justru menandakan bahwa Indonesia sangat atraktif secara global, memiliki kredibiilitas yang dipercaya, dan angka kebijakan makro yang baik, dan arahnya juga tidak mengkhawatirkan.

Pria kelahiran Tanjung Balai ini menjelaskan bahwa bila utang ini terus dipergunakan sebagai hal yang produktif, maka kedepannya utang tersebut dapat terlunasi. Utang pun memang sangat dibutuhkan sebagai biaya penutup belanja negara yang memang tidak sesuai dengan pendapatan negara. Belanja sendiri memiliki fungsi yang begitu penting bagi negara, lantaran meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Semua negara pun memiliki utang. Jika negara tak berutang, itu tandanya mereka menahan diri dalam pengeluaran. Sehingga jika menahan diri dalam pengeluaran ekonomi, maka justru akan terjadi kontraksi.

Infrastruktur

Dengan kata lain, menjaga belanja negara terus menerus yang diarahkan kepada hal produktif sangatlah penting. Seperti yang dilakukan pemerintah saat ini dengan membelanjakan infrastruktur, dibandingkan dengan memberikan sebagai subsidi. Pemerintah memenuhi harapan dengan melakukan spend, sehingga ekonomi hidup lagi. Jikalau ekonomi tumbuh, akan mendapatkan penghasilan. Dengan begitu, membayar utang negara akan menjadi lebih mudah. Jadi, jangan berpatokan kepada besarnya utang, tetapi dengan menambah utang justru ekonomi menjadi tumbuh berkembang, otomatis pemasukan negara juga akan bertambah.

Berdasarkan data yang bersumber dari beberapa media online, bahwa keseluruhan utang Indonesia yang telah dibayar sampai bulan Juli 2016 sebesar Rp 324,256 triliun, atau 67,51% dari pagu, dan sudah dialokasikan di APBN. Pokok utang pada periode tersebut mencapai angka Rp 216,929 triliun, yang terdiri dari pembayaran pokok Surat Berharga Negara (SBN) Rp 176,851 triliun atau 78,20% dari pagu APBN, dan pokok pinjaman Rp 40,079 triliun atau 57,89% dari pagu APBN.

APBN

Utang yang berbunga dan telah di bayarkan pada saat ini sebesar 107,327 triliun atau 58,03% dari pagu APBN. Adapun pembayaran bunga pinjaman sepanjang periode itu yakni Rp 8,442 triliun atau 50,17% yang berasal dari APBN, dan untuk SBN, bunga yang telah dibayar sebesar Rp 98,885 triliun atau 58,82% dari pagu APBN.

This entry was posted in Finansial and tagged . Bookmark the permalink. Trackbacks are closed, but you can post a comment.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*